Tuesday, 21 February 2012

Pertemuan Horror

Hari itu… adalah hari yang akan mengerikan dalam pikiranku. Aku tidak ingin bertatap lagi dengan seseorang. Namun apa daya, aku tak dapat mencegahnya, itu di luar kuasaku. Firasatku selalu benar, kehebatannya mampu menghantuiku. Langkah kaki untuk segera menemui sosoknya pun terasa berat dan kaku. 
                          "Tidaaaak, tidaaaaaaaak!" 

Dimanakah letak hatiku, apa ia telah bergeser dan memutuskan urat malu? Aku ingin menghentikannya sebelum pertemuan itu benar terjadi, 

                           "Sosoknya bagaikan monster yang terus meneror". 

Sejujurnya aku telah melihat sosoknya kemarin, dibalik kerumunan calon mahasiswa yang menghambur bubar setelah hari perdana ujian masuk perguruan tinggi yang biasa disebut SNMPTN telah usai, Yaa tak kusadari selama beberapa jam menegangkan itu.. aku, dan dia berada dalam satu ruangan yang sama. 

     Waktu terasa begitu cepat, Pikiranku terasa lambat, Aku harus berkonsentrasi.. namun dalam pikiranku hanya penuh bayangan-bayangan kemungkinan yang akan terjadi esok, “Aku gila.. malam ini!” Setidaknya ucapan itu lebih tepat untuk menggambarkan perasaanku pada malam sebelum hari itu dimulai. 

Hari horror pun dimulai. Sosoknya semakin jelas, kehadirannya terasa horror dalam ruangan itu. Sial! Suasana ruang itu sepertinya telah di desain untuk ketegangan. Untuk masa peperangan, kurasa tidak ada masalah. Toh aku bisa berperang walau seruang dengannya. Jelas, mungkin dia tidak menyadari aku duduk dalam baris yang sama, hanya terpisah oleh beberapa kepala saja. Tapi aku yakin, Dia tidak tahu keberadaanku saat itu. Perang pun sukses, namun hasil pasti akan kemenangan masih dalam tanda Tanya. 

Suasana ruang itu, kini riuh.. sama persis seperti ketika aku menyadari bahwa aku telah melihat sosok itu sehari sebelumnya. Bagaikan de javu, hanya saja… 

                "Tidaaaak, tidaaaaaaaak!"

  Badan kurusnya yang tak sanggup menahan silau yang menerpa masuk ke dalam ruangan itu seketika berbalik tanpa ada praduga dalam benakku sebelumnya. Ia memanggilku, Dengan isyarat bisu dan bahasa tubuh yang penuh semangat persis di ambang pintu. Jarak kami hanya sekitar enam meter saja, sehingga jelas kudapati sosoknya. Namun tak berani kutatap matanya. Terdiam sejenak dan tubuhku mematung, dalam benak berpikir bahwa hari itu hanyalah sebuah mimpi. “Aau” jeritku pelan ketika lengan kiriku tercubit tangan kananku. Sakit!! Ini nyata.. 

                     "Tidaaaak, tidaaaaaaaak!"  

Aku tak boleh menuju ke arah orang itu! Sekeras raga ingin melawan namun perlahan nurani menuntun langkah kaki untuk bergerak perlahan menuju kepadanya, bagai kompas yang selalu menunjuk utara, bagai kutub negatif yang ditarik kutub positif. Seperti itulah daya tariknya yang begitu kuat. 

Orang itu menyederhanakan tawa, sederhana namun begitu indahnya. Melengkungkan sudut seratus delapan puluh derajat dahsyat dalam sebuah lingkaran senyum di wajah pucatnya. Bagaimana bisa, orang ini masih sudi tersenyum dengan indahnya kepada orang yang telah melukai perasaannya? Tanpa sadar, kedua ujung bibirku terangkat, seakan tak mau kalah aku berusaha mengimbangi senyum manisnya. Kala itu, kedua mata kami beradu dalam sepersekian menit, serasa pandangnya yang tajam jatuh jauh menembus iris seakan menikam dan menghunjam jantung. Kemudian mempercepat ritme degubnya. Dalam hati ku meronta “Lepaskaaaan matakuuuu, lepaskan!!!” 

 “Anggi, kok kamu disini?” Suaranya yang lembut membuyarkan pikiranku yang masih tenggelam dalam pesonanya. “Oh, ujian tes masuk. Kamu sendiri ngapain ada disini Lif?” Setidaknya pertanyaan bodoh yang jelas-jelas aku sendiri tau jawabannya pun bahkan takkan terdengar lucu saat itu. “Haha, sama kayak kamu. Pengen kuliah” “Kuliah dimana?” “Di universitas X, mau ambil Arsitektur. Kamu pasti mau ambil kedokteran ya?” “Iya kedokteran, kok kamu tau?” “Kayaknya kita dulu pernah ngobrolin ini di tempat bimbel deh. Mm kedokteran dimana?” “Oh, iyaa kamu masih inget aja. Di universitas Y” Sesaat kemudian terdengar suara handphone berdering. “Entar dulu ya, Mama nelepon” Ia merogoh tas selempangnya, kemudian menempelkan benda yang dicarinya itu ke telinga. “Assalamualaikum, iya Ma kenapa?”—“Apaa?, emang gak ada Dito?”—“oke, oke…..” Tampak tangan kirinya menutup speaker handphone seraya menjauhkan benda itu dari telinga, sepertinya ia diomeli oleh ibunya. “Iya Ma, gak usah marahin Alif. Oke Alif kesana sekarang” . Ia mengembalikan Handphone ke dalam tasnya. “Maaf ya Anggi, aku harus buru-buru” “i-iya, kamu harus pulang Lif, kayaknya Mamamu butuh bantuan” “Oke, Good Luck ya SNMPTN-nya” Sambil tersenyum manis ia melambaikan tangannya. “Kamu juga ya” Kemudian ia bergegas pergi. Padahal masih ada yang ingin kusampaikan kepadanya. 

Sepertinya senyuman itu merupakan akhir untuk yang terakhir kalinya kami bertemu. Kini, aku hanya bisa meratap, tak ada yang bisa kulakukan untuk membawa senyuman itu kembali atau setidaknya mengembalikan waktu pada pertemuan terakhir itu. Jikalau bisa akan kukatakan secepatnya sebuah kata yang tak sempat tersampaikan. “Besok”, jelas tak akan bertemu lagi di ruangan itu, karena hari ini hari terakhir ujian tegang itu. “Melalui akun facebook atau twitternya”. Tapi, bagaimana status pertemananku dengannya di facebook diremove, di twitterpun di block. Berharap satu universitas dengannya, malah akan terpisah oleh jarak antar-kota. Lantas Mengapa? Mengapa waktu itu dia menyapaku? Apakah Ia hanya berusaha untuk melawan dendamnya? Entah.. apapun jawabannya. Aku hanya ingin mengucapkan ini “Maaf” itu saja, setelah itu aku tak berharap apapun, bahkan bila tidak termaafkan sekalipun. 

 Nyoba-nyoba bikin cerpen. hehe. Cerita ini bukan curcol juga bukan pengalaman pribadi. Cerita merupakan fiktif belaka, bila ada kemiripan nama dan gelar mohon maaf sebesar anak gajah #apasih. Gimana ceritanya? kasih komentarnya dong :)

10 comments:

  1. cerpennya cukup menegangkan,,,


    salam kenal dan follback juga
    Revolusi Galau
    Ya..

    ReplyDelete
  2. hoho.. makasihh
    salam kenal juga :D

    ReplyDelete
  3. Ada kelanjutannya ga? Jadi penasaran...

    ReplyDelete
  4. wahyu : Hmm sementara ini statusnya masi cerpen.. ntar dibuat deh versi cerbungnya insyaAllah. thanks kunjungannya :)

    ReplyDelete
  5. @Latifah Ratih:
    Makasih kakak... terima kasih komentarnya :D

    ReplyDelete
  6. follback sukses. . .InsyaAllah
    tuker link juga :D

    eehhh ini bukannya yang mau kopdar sama latifah kan :D

    ReplyDelete
  7. @Kaito Kidd iyee haha. oke bro tengkyu :D
    iya insyaAllah :)

    ReplyDelete
  8. baru sempet baca kalau cerita diatas ngga diterusin jadi ngegantung, jadiin cerbung ya.. kata-katanya sederhana seperti sehari-hari dan remaja banget =)

    ReplyDelete
  9. @...Uzay Gingsull... oke deh ntar kedepannya bakal ditambahin makasih sarannya.. :D

    ReplyDelete

Jangan diem aja, komen juga dongg :D