Friday, 1 March 2013

Dina, Oh Dina


        Pojok kelas tepat deretan kursi paling belakang, tempat favorit untuk menghindari tunjukan dosen kalkulus yang mulai memburu pikiranku. Seorang gadis yang mengenakan kemeja kotak-kotak dengan warna dasar pink telah berada di sana sibuk bersama BBnya. Aku senang, kebetulan sekali ia mau duduk di pojokan kelas itu. Kuperhatikan lekat-lekat wajahnya yang cerah dengan sigap. Ia hanya tertunduk sambil berkata “Apaan sih, liat-liat?”. Sambil tersenyum dan memalingkan pandangan, aku tanyakan kepada teman-temanku yang lain. “Oi, siapa yang bawa tissue? “ . Mereka tak ada yang menjawab pertanyaanku. Aku cukup kesal, tetapi suasana kelas memang sangat tidak kondusif (?). “Tissue, buat apa? Gua ada tissue” tiba-tiba gadis itu menyahut. “Oh, gua pikir lo kenapa napa. Mata lo merah tuh”. Kemudian gadis itu melotot ke arahku, tapi ia kembali memandangi layar BBnya lagi. Dan akhirnya aku menyadari sesuatu, wajahnya yang cerah tak sanggup menutupi matanya yang lelah. Saat ia melotot tadi awan gelap tampak menggantung di matanya. Awan itu jenuh, mungkin telah terkondensasi oleh emosi yang tak sanggup ia bendung sedari tadi. Tak lama gadis itu keluar meninggalkan suasana kelas yang gaduh. Sementara aku hanya sanggup memperhatikan langkahnya dari sini. Dari sebelah bangku yang baru saja ia tinggalkan.

         Dosen kalkulus tiba di kelas, sementara Dina. Gadis yang memakai baju kotak-kotak belum juga kembali. Karena khawatir Dina melakukan perbuatan yang tidak diinginkan, aku dengan gagah berani memberanikan diri untuk izin ke toilet kepada Pak Dosen. Pak dosen menaruh curiga kepadaku. Terlihat dari sorot mata yang tersembunyi di balik kaca mata bundarnya. Tetapi ia mengizinkanku dengan anggukan kepalanya yang khas. Mirip seperti adegan meyakinkan tokoh-tokoh kepahlawanan jepang sebelum bertempur melawan raksasa.
 
         Aku menyusuri seluruh fakultas, tetapi tetap tidak menemukan Dina. Aku mulai gelisah, berharap Dina baik-baik saja. Setiap orang yang lewat kutanyai tentang ciri-ciri fisik Dina. Tapi tidak ada satupun yang melihat Dina. Sempat terbersit pikiran untuk menyebarkan pamflet berisi informasi tentang hilangnya Dina, jikalau perlu menempelkannya di setiap dinding fakultas. Akan tetapi cara itu hanya akan memakan waktu yang sangat lama. Dosen kalkulus pasti sudah selesai mengajar dari kelas ketika aku menemukan Dina nanti. Lagi pula bagiku fakultas itu pun kecil, aku yakin pasti dapat menemukan Dina dengan tanganku sendiri tanpa bantuan orang lain.

         Aku mulai putus asa, Dina tidak kutemukan juga. Sempat kucari-cari di toilet wanita. Namun wanita-wanita yang ada di sana malah berteriak-teriak sambil melempariku dengan sisir dan bedak tabur. Dengan gontai kulangkahkan kakiku meninggalkan toilet. Aku merenung sejenak di depan perpustakaan. Beberapa orang yang lewat menertawaiku karena taburan bedak yang menempel di bajuku. Aku pun mulai bete. Dengan cerdasnya aku masuk ke dalam perpustakaan. Entah kenapa aku yakin sekali, di dalam perpustakaan itu akan kudapatkan solusi terjitu untuk menemukan Dina. Setelah mencari-cari buku yang dapat membantu misi pencarian Dina, akhirnya kudapatkan buku yang sangat menarik perhatianku. Yaitu majalah gadget. Sempat terheran sejenak, mengapa ada orang yang menaruh majalah itu di perpustakaan? Apakah majalah itu milik Pak Suryo, dosen kalkulus? Apakah majalah itu bisa memberikan informasi mengenai keberadaan Dina? Entahlah, pertanyaan-pertanyaan itu segera kuabaikan karena kebetulan aku sedang mencari info terbaru mengenai gadget apa yang paling keren dan terjangkau oleh uang di tabunganku. Dan beruntung kutemukanlah majalah itu.

           Lembar demi lembar kuamati dengan teliti, kucatat satu persatu kelebihan fitur masing-masing gadget. Sampai pada suatu halaman, kupandangi gadget yang tergambar di sana. Begitu mewah, elegan dan mirip sekali dengan BB Dina. Aku benar-benar jatuh cinta pada pandangan pertama kepada gadget itu. Belakangan aku ketahui setelah membaca merk gadget tersebut adalah “BlackBerry” Sama dengan merk BBnya Dina. Dan kebetulan juga pada saat itu juga aku ingat bahwa Dina pernah menawarkan diri untuk menjual BBnya kepadaku. Dina berjanji akan memberikan diskon 50% apabila aku membeli BBnya seharga tiga juta rupiah. Dina bilang harga BB yang ia tawarkan jauh lebih murah dibanding harga di counter HP. Karena kata Dina dia dulu pernah beli BB di counter dengan harga satu juta lima ratus ribu rupiah tanpa diskon. Aku selalu ingat kata kata Dina yang bersemangat sambil memonyongkan bibirnya ketika berbicara , “barang yang murah dan berkualitas itu yang ada diskonnya, coba aja deh lo pergi ke mall. Di situ barangnya bagus-bagus, berkualitas dan branded. Tapi yang murah kan jarang. Mangkanya lo harus nunggu diskon dulu baru dapet deh barang branded yang murah”. Aku mempercayainya karena Dina adalah gadis baik hati yang pandai berbelanja dan jeli menawar di pasar. Oleh sebab itu, aku harus menemukan Dina secepatnya. Dengan segera kurogoh ponsel bersenter di saku celanaku. Kuketikkan beberapa teks dan kukirimkan kepada Dina “Din, Lo sekarang di mana?” (-___-“)

           “Di manaaa, di mana, di manaaa?” suara gadis yang sangat merdu mengagetkanku tiba-tiba setelah lama sekali menunggu balasan sms Dina. Tak kusadari akan ada ayu ting ting menghampiriku di saat genting seperti ini. Dan ternyata setelah kudengarkan baik baik suara itu datang dari Experiaku. Hapeku yang paling keren dilengkapi aplikasi senter yang telah terinstal di dalamnya. “Haloo, iya gua Awan.. Apa?? Dina?? Lo ada Di kelas?? Kenapa lo nggak ngomong dari tadi?? Apaa? Pak Suryo udah keluar kelas? Apa?? BB lo disita pak Suryo gegara lo sibuk BBman?” pfffft ---------------------------------- . Tamat .
Haha. Krik krik. This story will be sounds “garing” right?? Well, just iseng doang kok. Hehe. Cerita ini aneh banget. Gimana bisa coba si Dina ngebalesin smsnya Awan sementara hape Dina disita ama Pak Suryo?? Yang bisa jawab tak kasih BBnya Dina :P
Oiya, Si Dina keliatan kayak mau nangis sebenernya bukan pengen nangis. Tapi matanya itu kecapekan BBMan terus. Si Dina pergi ke toilet sebentar buat nyuci muka. Biar gak ngantuk pas pelajaran Pak Suryo. Sebenarnya Dina dan Awan berpapasan di jalan. Tapi Awan pas lagi sibuk berpikir dan nggak ngeliat Dina. Si Dinanya buru-buru ke kelas takut dimarahin ama Pak Suryo. Pak Suryo nyita BB Dina sementara biar Dina Jera. Abisnya si Dina ini maenan BB mulu dan bikin Pak Suryo kesel. Kalau si Awan?? Si Awan ini sebenernya dia cuma cowok yang terobsesi dengan gadget, apa lagi yang bisa buat nelpon gitu. Berbagai macam gadget mulai jaman jebot sampe abad 21 udah dia koleksi. Mulai jam kukuk ampe jam yang bisa buat nelpon dia juga punya loh. (?)  Dia udah punya hape android dan sebenernya udah punya BB juga (Blueberry) Sayangnya dia rada’ rada’ o*n gimana gitu. Ya gitu deh ceritanya.
Pesan yang bisa dikantongin sebelum pulang : Gadget adalah salah satu barang elektronik yang membantu dan memudahkan kita dalam melakukan aktivitas. Akan tetapi, pakailah gadget seperlunya. Karena gadget bukanlah segalanya #tsaaah.

18 comments:

  1. Haha udah serius baca-baca ternyata cuma ngantuk kebanyakan....

    :D

    ReplyDelete
  2. duuh itu kok pake fotonya bae suzy? wkwk :p

    ReplyDelete
  3. setuju sama pesan yang bisa dikantonginnya hehehe

    ReplyDelete
  4. Nah itu tuh, kembali lagi kita hrus pergunakn semua gadget pada waktunya aja. Jangan kayak Dina ya.heehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kalo Dina tuh gatau waktu. Jangan ditiru..

      Delete
  5. dan terkadang kalu ga bisa mengendalikan bisa2 kita yg diperbudak ama perushaan2 gedget itu, minimalisir jg deh budaya konsumtif tpi lebih ke arah yg produktif,bca juga http://alifkj.blogspot.com/2012/02/perjalanan-yang-akan-berhenti-kelak.html

    ReplyDelete
  6. ternyata Awan mencari Dina hanya untuk membeli BB nya Dina --"

    ReplyDelete
  7. “Di manaaa, di mana, di manaaa?”.. ampuuun deh, senyum dipagi hari setelah baca tulisannya :)

    ReplyDelete
  8. Sepintas aku kira ada relasi antara "Pak Suryo" dan "Gadget". RE: Roy Suryo mantan menkominfo. heuheu

    ReplyDelete
  9. Sempat terbersit pikiran untuk menyebarkan pamflet berisi informasi tentang hilangnya Dina, jikalau perlu menempelkannya di setiap dinding fakultas ----> hahaha si Awan lebay banget hahaha..

    ReplyDelete

Jangan diem aja, komen juga dongg :D