Friday, 10 April 2015

Ketika Gadget di Tangan...

       Sekarang kita hidup pada zaman di mana kebahagian dapat ditemui dalam kesemuan. Kesemuan yang bisa kita gambarkan dengan adanya "likes, followers,comments, friends, moments" dan lain-lain. Sebenarnya.. apa yang kita kejar? Sekarang tak jarang muncul pertanyaan misalnya "Gimana sih caranya meningkatkan followers?"  atau "Gimana sih caranya biar banyak yang like?"

      Manusia memang dibekali kemampuan "eksistensial". Kemampuan inilah yang membuat manusia dengan caranya sendiri mampu untuk mengaktualisasikan dan menegaskan bahwa dirinya ada. Kita pun, ingin selalu dianggap "ada" oleh orang lain. Tidak ingin dipandang sebelah mata, dan dihargai setiap karyanya. Bukankah hal ini juga dilakukan oleh orang-orang terdahulu sebelum kita?


Yap, memang! namun saat ini kebebasan eksistensial manusia telah dibuka lebar-lebar! Tenang, ini hanya opiniku saja. Mari kita sama-sama merenung dan belajar, ya.. (hihi). 

     Oke, balik lagi. Sekarang udah ada internet. Hampir semua orang di dunia mengenal yang namanya "internet" (tentu saja dengan bahasanya masing-masing) internet memberikan kita sebuah jendela yang sangat lebar sekali sehingga kita dapat melihat apa yang belum kita ketahui sebelumnya. Internet juga berperan sebagai penjawab pertanyaan manusia, bahkan internet memudahkan pekerjaan dan menyelesaikan tugas-tugas pelajar maupun pendidik (ehem). Dibalik segala kemudahan yang ditawarkan internet ada suatu ironi yang pantas untuk ditilik. Bahkan menjadi bahan renungan termasuk buatku pribadi. Adanya internet bukan menjadi rahasia umum lagi kalo internet itu bisa mendekatkan yang jauh tapi juga bisa menjauhkan yang dekat. Sebagai contoh, dulu ngobrol bareng temen rasanya asyik tanpa smartphone atau gadget di tangan. Sekarang ngobrol bareng temen bakalan "krik-krik" kalo pada sibuk pegang gadget masing-masing. Ngumpul rame-rame niatnya reuni malah jadi ajang pamer gadget dan foto-foto groufie, setelah itu... sibuk dengan gadget sendiri-sendiri di tempat acara. Sangat jarang terjadi kalo salah satu atau beberapa anggota nggak sibuk sama gadgetnya masing-masing. Pas udah bubaran, nyampe rumah... biasanya sih ada yang upload foto di social media hasil jeprat-jepret acara ngumpul-ngumpulnya tag sana, tag sini. Niat reuni itu biar dapat quality time bareng beloved colleagues tapi malah jadi pencitraan doang~. 



      Kadang aku juga ngerasa kecewa sama diriku sendiri.. Aku adalah anak perantau di kota Samarinda. Aku anak kost yang jarang pulang ke rumah. Tapi suatu hari, saat aku (seharusnya) mendapatkan quality time bareng keluarga aku sibuk sendiri sama laptopku, aku jadi males kalo ditanya-tanyain sama ibuku karena aku lagi asyik ngegambar di laptop (oke, memang bukan internet) Tapi betapa, kenapa aku sampe lebih milih gadget dari pada ibuku sendiri? Aku sedih.. mungkin saja orang tuaku sedih karena sikapku itu. Aku juga sangat menyayangkan, adekku di rumah yang duduk di bangku kelas VII SMP. Setiap hari gak bisa lepas dari gadget. Dia jadi males belajar, mainan facebook terus. Padahal di usia dia itu usia yang bagus buat berkreativitas dan belajar secara mandiri. Akibatnya PR dari sekolah sering dibengkalaikan, pekerjaan rumah (bukan PR; kegiatan seperti nyapu, ngepel, cuci piring) jarang dia kerjaan. Aku sering ngasih nasihat sama adekku eh tapi dianya susah dibilangin dan cuma bilang "biar aja!" ihhh apa nggak ngeselin!  Aku kasian banget sama ibuku. Ibuku sudah capek kerja buat anak-anaknya, tapi anaknya lebih milih gadget daripada mengerjakan perintah ibunya.

 


        Aku sering mengamati perilaku orang di sekitar. Dikit-dikit poto, dikit-dikit update status! Well... aku pun juga begitu. Walau sudah nggak sesering dulu. Bener-bener aku rasain gimana hidup sangat tergantung sama gadget. Dulu pas aku masih alay, aku selalu update status di facebook sehari bisa sepuluh kali atau lebih. Ngumpulin komen atau like... yaaa biar dikira eksis gaul gitu sama temen-temen. Memang niat kita untuk berbagi, berbagi keluh kesah, kesenangan, hobi, informasi dan lain-lain. Tapi tentu saja yang kita harapkan adalah "respon" dari orang lain. Supaya kita tau kalo apa yang udah kita bagikan orang lain itu udah diliat atau dibaca bahkan disukai dan diberi apresiasi. Tapi jatohnya malah apa... yang dibagikan itu sebenarnya banyak palsunya!  ayo deh ngaku aja, kalo poto pada pake camera 360 kan! kalo nulis status bahasa inggris pake bantuan google translate, kan! Atau kalo pergi ke rumah makan yang dipoto makanannya . Di Path share moments Pergi ke bandara, ke mall ke bioskop nonton film, kemana aja dan ngelakuin apa aja yang sifatnya membuat orang tertarik dan berpikir bahwa kita anak gaul yang kewl dan keren kekinian, kaya dan punya segudang kelebihan lainnya! menjadi suatu keharusan yang sengaja dibuat-buat untuk dibagikan kepada orang lain. Jujur saja, menurutku itu namanya pamer dan maksa! hehe. 

Satu hal yang masih kupertanyakan: Kenapa terkadang seseorang tidak ingin menjadi diri sendiri apa adanya??? 

        Di sosial media itu juga ada beberapa hal yang menurutku berlebihan. Misalnya kebebasan untuk berbagi informasi yang sifatnya private. Misalnya aja kalo ngeliat status temen yang ngomongin panjang-lebar tentang kisah cintanya secara gamblang. Terus kayak untaian pujian buat pacar atau harapan masa depan bersama pasangan. Pas ditanya kapan nikah. Eh malah marah! Kan ngeselin banget nih. Feed di timeline berduaan mulu sama pacar/pasangan pas ditanya kapan menginjakkan ke jenjang yang lebih serius malah marah. Sesuatu yang sifatnya pribadi kayak gitu gak perlu diumbar ke lingkup sosial secara berlebihan lah, menurutku. 

         Aku salut sama temen-temenku yang pure nggak tertarik sama social media yang semu. Aku mulai mengikuti gaya hidup mereka. Walaupun aku akui aku tak bisa sekedar tidak main game di hape atau membuka instagram untuk sekedar melihat gambar-gambar menarik. Aku tinggalkan facebook, twitter dan blog! untuk sementara waktu... mengikuti alur hidup mereka. Aku bahagia aku tidak sibuk dengan gadgetku (sedikit terminimalisir). Akan tetapi, ketika aku kembali ke facebook, twitter atau blog aku sadar... Yang kumiliki bukanlah seperti dulu. Teman-temanku di dunia maya seperti hilang. Aku menyadari satu hal. Dalam dunia maya, simbiosis itu nyata! Hubungan timbal balik seperti "oh, dia orang yang sering like statusku" atau "oh, dia orang yang sering retweet aku" dan atau "oh, dia orang yang sering komen blog aku" maka orang-orang ini akan dihargai, dianggap dan diapresiasi. Hal ini wajar terjadi karena di dalam sosial media, akan ada yang namanya aksi-interaksi. Kalo kamu gak aktif di sosmed, maka ketika kamu main-main ke sosmed kamu bakalan jadi orang asing. Terkecuali kamu itu artis! iya~kamu (dodit mode: on)

Kita tau, tidak semua tujuan sosial media itu negatif. Tujuan utama adalah untuk menghubungkan orang. Iya, kayak NOKIA gitu, "Connecting People". Karena dengan sosmed kita bisa terhubung dengan teman-teman dan kerabat yang jauh, Diskusi bareng temen-temen bahkan ketemu sama temen baru. Bermain sosmed juga membuka wawasan dan pengalaman baru lewat apa yang kita bagikan dan juga apa yang dibagikan oleh orang lain kepada kita. Tapi kita juga harus tau bahwa jangan sampai dengan adanya sosmed membuat kita apatis sama lingkungan sekitar, menurunkan kinerja atau produktivitas kita dan juga membuat kita kehilangan privasi. 

Gunakan sosmed seperlunya saja :)



13 comments:

  1. Hehehe sama donk. Saya juga suka belajar dan merenung biar tidak salah langkah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul itu pak.. tidak ada salahnya untuk merenung sejenak. :)

      Delete
  2. Asik maen coc juga sih terkadang :D

    ReplyDelete
  3. nah bener. pas udah ngumpul sama temen, pada asyik sama gadget masing2. kadang bertanya-tanya, apakah reuni emang akan se awkward gini kalau gak ada gadget di tangan?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kehilangan momennya itu loh.. momen ngumpul sama temen malah keganggu sama adanya gadget :(

      Delete
  4. Setuju! :D

    Aku cumak punya blog dan fb yang dipakek buat main game. Tapi ternyata rasa bahagia ku sama kayak yang sosmed freak laennya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. good. jangan mau diperbudak socmed freak. Perubahan jaman bakalan maksa kita buat bikin akun-akun socmed baru. Liat saja beberapa tahun ke depan nanti bakal ada socmed baru yang freak lainnya.

      Delete
  5. Nampol bangeet euy tema-nya mehehe...berasa merah di pipi hihi...

    eh, beteweh samarindanya mane? peramuka?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahaha nampol :D. makasih

      Perjuangan sayaa. deketnya peramuka.

      Delete
  6. Tak semua momen harus diperlihatkan, dibagi... Tak semua pikiran harus diutarakan.. Program itu, terus jalankan Ima, pertahankan. Jadikan bercerita dalam satu meja tanpa gadget itu sebuah kebiasaan. Saya pun pernah mengajukan pertanyaan, apakah menjadi modern itu harus "terkenal"? Terkenal namun melupakan, meninggalkan ikatan-ikatan batin di dunia nyata? Apa untungnya?

    Tulisan ini two thumbs. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul kak, setuju. Kebebasan berbagi itu sah sah saja. Kembali ke diri masing2. Lagi menjalankan program puasa gadget nih. Sehari mau pegang gadget 5 kali. huahaha.

      Sepemikiran! Terkenal di dunia gak ada untungnya kalau di akhirat gak bisa mempertanggung jawabkannya.

      Thanks :)

      Delete
  7. Artikel lengkap tentang keperawatan, kebidanan, kedokteran dan penyakit ada di woosci.blogspot.com

    woosci.com

    ReplyDelete

Jangan diem aja, komen juga dongg :D